Karena Kasih Sayang Tak Pernah Memiliki Batas

Oleh: Nurwahidah Ramadhani


cover sheila luka seorang gadis kecil.jpg


Hayden mungkin sudah menjadi seorang penulis yang baik jika dia berada dalam situasi berbeda. Kita beruntung bahwa dia memutuskan untuk menjadi guru anak-anak penderita cacat mental serta gangguan emosi yang parah… –Washington Post Book World


Seorang gadis kecil berusia enam tahun telah menculik bocah di lingkungan tempat tinggalnya. Pada malam dingin di bulan November itu, dia membawa seorang anak lelaki berusia tiga tahun, mengikatnya ke sebuah pohon di hutan kecil dan membakarnya. Anak lelaki itu kini berada di rumah sakit setempat dalam keadaan kritis. Si gadis ditahan.


Jika anda adalah orang tua, bagaimana perasaan anda jika gadis itu berada di dekat lingkungan anda dan memungkinkan anak anda bertemu dengannya?

Bagaimana reaksi anda jika anda adalah seorang guru dan gadis kecil itu ditempatkan di kelas yang anda ajar?

Jika anda diposisikan harus satu kelas dengan gadis seperti itu, apa yang anda lakukan?

Pertama kali membaca novel ini, sepertinya saya masih SD. Saat membacanya, saya tidak begitu mengerti cerita ini karena saya masih kecil dan novel ini berlatar belakang kehidupan barat di mana saya belum punya referensi mengenai keadaan di sana. Tak hanya itu, bacaan terjemahan memiliki struktur yang lebih rumit dan kaku, setidaknya bagi anak seusia saya saat itu.

Walaupun tidak sepenuhnya mengerti, awalnya saya merasa ngeri jika membayangkan mempunyai teman sekelas yang membakar anak kecil. Dan saya yakin di Indonesia, setidaknya di daerah saya, anak seperti itu tidak dibiarkan berkeliaran.

Sekarang, kira-kira sepuluh tahun kemudian, saya menemukan buku ini di lemari buku dan mulai membacanya –lagi. Kisahnya justru membuat hati saya berkecamuk. Dengan latar belakang pendidikan, lebih tepatnya pendidikan bahasa Inggris, saya nantinya akan menjadi seorang guru. Seandainya saya harus mengajar anak seperti itu, apakah saya sanggup? Saya benar-benar belum pernah membayangkan harus mengajar anak dengan gangguan mental dan emosi yang parah.

Sosok Torey Hayden –si penulis— menurut saya adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Ia merupakan psikolog pendidikan dan guru  pendidikan luar biasa. Ia biasa menuliskan kisah-kisah di kelas dan buku itu sangat laris –kita selalu butuh karya sastra yang mendidik. Lewat bukunya ini, ia ingin ungkapkan bahwa pekerjaannya (mengurus mengajar anak cacat mental dan emosi) tidaklah semenyedihkan itu. Ia bercerita tentang seorang gadis kecil yang mengalami masa kecil mengerikan (ditinggalkan ibu ketika berusia 4 tahun, ayah pemabuk dan sering memukulinya serta penganiayaan lain) mampu menjalani hidup lebih baik apabila diberikan kasih sayang dan dukungan -juga bercerita tentang delapan siswa unik lainnya .

Sheila, nama gadis cilik itu. Seperti sudah diceritakan di atas, ia membakar seorang bocah lalu ditahan. Namun, rumah sakit negara belum memiliki unit untuk anak-anak sehingga ia harus dimasukkan ke sebuah kelas hingga unit tersebut selesai dibuat.

Adalah sebuah ‘kelas sampah’, kelas yang terdiri dari delapan ‘anak buangan’ yang tidak masuk dalam klasifikasi kelas apapun (baik itu cacat fisik, penyimpangan perilaku, kelemahan belajar—karena mereka lebih rumit dari pada itu) yang diajar oleh Torey bersama dua asisten tidak berpengalaman. Ia datang –lebih tepatnya diseret— ke kelas pada tanggal 8 Januari dengan bau yang sangat menyengat. Ia tidak mempercayai orang-orang. Ia benci bersama orang lain. Ia hanya diam membisu dan menarik diri.

Pada hari pertama itu, ia marah karena suatu hal lantas menangkap ikan-ikan di akuarium lalu mencongkel ikan tersebut dengan menggunakan pensil dan membantingnya ke lantai. Ikan tersebut menggelepar dengan darah berserak di mana-mana sehingga membuat anak lainnya menjadi histeris. Saat Torey bertindak untuk menghentikan aksi itu, Sheila menancapkan pensil tersebut ke lengannya dengan sangat kuat hingga berdarah.

Malam harinya, Torey menelpon guru Sheila yang sebelumnya, nyonya Barthuly. Bisakah anda bayangkan apa yang dikatakannya?

“Oh ya ampun, saya kira mereka telah menyingkirkannya untuk selama-lamanya. Saya belum pernah bertemu anak semacam ini. Destruktif, ya ampun, setiap kali saya berpaling darinya dia menghancurkan sesuatu. Pekerjaannya sendiri, pekerjaan anak-anak lain, papan buletin, pajangan seni, apa saja. Suatu kali dia mengambil jaket semua anak lain dan menjejalkannya ke dalam kakus di kamar mandi anak perempuan. Seluruh lantai dasar jadi banjir. Saya mencoba segala cara untuk menghentikannya. Dia selalu menghancurkan pekerjaannya sebelum kita bisa melihatnya. Saya mulai melapisi kertas jawabannya dengan plastic agar dia tidak bisa menyobeknya. Anda tahu apa yang dilakukannya? Dia memasukkannya ke dalam mesin pendingin sehingga AC rusak. Kami menjalani tiga hari tanpa ventilasi, padahal panas mencapai 95 derajat Fahrenheit.”

Lantas, bagaimana Torey memenangkan hatinya? Bisakah ia membuat Sheila percaya bahwa hidup tak selalu kejam dan membuka diri pada dunia sekitar?

Banyak sekali hal yang saya sukai di novel ini, bahkan hampir semua kalimatnya terasa sangat berisi. Membacanya membuat saya mendadak memahami psikologi anak dengan lebih baik. Saya merasa bahwa  anak-anak unik ini tak seharusnya dihindari atau dikucilkan justru mereka perlu diberikan kasih sayang. Tak hanya itu, rasa sayang terbit di hati saya karena setiap anak yang diceritakan memiliki sifat lugu, polos dan lebih bijaksana ketimbang orang dewasa.

Saya juga belajar bagaimana seorang guru mengajarkan sopan santun pada muridnya. Narasi dan dialog yang ada di novel ini membuat saya seperti hadir dan menyaksikan keseruan kegiatan belajar mengajar di kelas itu. Saya akan memberi satu contoh (yang saya tulis dalam bentuk percakapan) dari halaman 42-43.

Peter: (meloncat berdiri karena Sheila begitu bau) Dia bau bu guru. Dia bau sekali dan aku tidak ingin dia duduk bersama kita. Dia akan membuatku pusing.

Sarah: (mendekatkan wajahnya pada Sheila) Dia benar-benar bau, Torey. Dia bau seperti pipis.

Torey: Menurutmu bagaimana rasanya itu Peter, jika ada orang yang mengatakan bahwa kamu bau?

Peter: Habis, dia bau sekali, sungguh.

Torey: Bukan itu yang kutanyakan. Aku tanya bagaimana perasaanmu jika anda orang yang mengatakan itu padamu?

Peter: Aku tidak ingin membuat orang sekelas terganggu dengan bauku, itu jelas.

Torey: Bukan itu yang kutanyakan.

Tyler: (karena ketakutan dia akhirnya buka suara) Aku akan merasa sedih.

Torey: Bagaimana dengan kamu, Sarah?

Sarah: Aku tidak terlalu suka.

Torey: Tidak, kukira tidak ada di antara kita yang suka. Bagaimana cara yang lebih baik mengatasi masalah ini?

William: Kamu bisa memberitahunya diam-diam bahwa dia bau.

Guillermo: Kamu juga bisa mengajarinya supaya tidak bau.

Peter: Kita semua bisa tutup hidung (masih kesal namun tak mau kalah dari temannya yang lain).

William: Itu tidak akan membantu, Peter. Kamu jadi tidak bisa bernapas.

Peter: Bisa saja. Kamu bisa bernafas lewat mulut.

Torey: (tertawa) Semuanya, cobalah usulan Peter.

Bukankah sekelumit percakapan itu saja sudah bisa membuat anda merasakan suasana kelasnya? Bagaimana interaksi sesama siswa untuk menyelesaikan masalah bersama-sama dengan berdiskusi? Di situ ditampilkan bahwa mereka tidak jauh berbeda dengan anak normal lainnya. Bahkan penggambaran yang Torey lakukan sangat realistis dan manusiawi.

Ahh, rasa-rasanya saya sangat menyukai novel ini. Saya tak segan memberi 5 bintang. Satu bintang untuk kisah yang mengharukan. Satu bintang untuk pendeskripsian yang indah. Satu bintang untuk kesederhanaan bahasa yang digunakan. Satu bintang untuk terjemahan yang memuaskan. Satu bintang untuk ilmu psikologi anak yang dikemas dengan sangat menawan. Satu bintang… ups… saya kehabisan bintang namun izinkan saya menambahkan satu bintang lagi untuk semangat  dan kasih sayang yang ia tuangkan dalam kisah ini.

Walaupun novel ini diterbitkan tahun 1980 oleh penerbit Avon Books HarperCollins, New York dan diterjemahkan pertama kali di Indonesia oleh penerbit Qanita pada Juni 2003, isinya masih tetap mempesona. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua calon guru, guru, calon orang tua dan orang tua.

Saya sungguh berharap bisa berjodoh dengan karya Torey Hayden lainnya dan juga buku-buku lain yang berkisah seperti ini.


P.s: Resensi ini selain untuk posting pribadi di blog buku ini, saya juga menyertakannya dalam kegiatan Giveaway Born to be Loved @LucktyGS feat @primaditarahma di blognya Luckty (klik di sini). Alasan saya memilih novel ini karena saya merasa bahwa Sheila dan Torey (dan semua tokoh perempuan di novel ini) merupakan perempuan tegar yang patut disayangi dan dihargai melalui kisah dalam novel ini. Btw, untuk mengenal sosok Torey Hayden anda bisa membaca artikel-artikel di blog ini.

Tulisan ini memenangkan paket produk Emina dari mbak Primaditarahma. Alhamdulillah.

giveaway-the-primadita-born-to-be-loved


Judul asli: One Child

Tahun terbit: 1980

Penerbit: Avon Books HarperCollins, New York

Judul terjemahan: Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penyunting: Rika Iffati Farihah

Penerbit: Qanita, Indonesia

Cetakan: VII

Tahun: 2004

Desain & Ilustrasi sampul: Andreas Kusumahadi

 

 

 

 

Iklan