BLURB

Nadina merupakan seorang gadis ‘kurang biasa’ yang menginginkan kehidupan sebagai manusia ‘normal’. Tidak seorang pun di sekolah barunya yang tahu bahwa dia adalah mantan pasien rumah sakit jiwa. Tidak pula salah satunya tahu bahwa Nadina mengidap penyakit mematikan. Hingga suatu ketika seorang siswa penderita Albino mengusik mentalnya.

Natalie si Medusa, Levi si Monster serta Viki, yang satu-satunya diberi ‘titel’ sebagai Malaikat, mereka semua merupakan takdir paling berbahaya yang harus diterimanya. Dia hampir kembali ke ambang depresi menghadapi segala bully-an tentang kehidupannya setahun lalu. Namun romansa juga terjadi ketika Nadina memiliki sebuah rasa yang mereka sebut sebagai ‘cinta’ dan Viki mendapatkan urutan pertama dalam kata tersebut.

Dunia bisa berubah begitu pun hati, Nadina melihat si Hati Medusa bisa menangis, Hati Malaikat bisa marah serta seorang Monster yang tiba-tiba memiliki hati seperti malaikat.

Lalu hati seperti apa yang dimiliki Nadina?

Seseorang mengatakan kalau dia adalah satu-satunya pemilik sindrom hati yang paling ganas, yang paling menakutkan di antara mereka semua. Hal itu lebih parah dibandingkan dengan depresi serta penyakit yang dideritanya. Orang itu menyebutnya ‘YELLOW HEART’. Hingga kemudian Nadina mengambil resiko terbesar dalam hidupnya. Mengambil takdir yang tidak pernah disangka orang lain.

Ini hanya kisah tentang mental yang pernah diuji, tekad yang harus diikuti, nurani yang sering dibohongi serta dialog hati yang tak minta untuk dimengerti.


Blurb di atas memiliki efek luar biasa pada saya.

Mantan pasien rumah sakit jiwa, penyakit mematikan, bully-ing, depresi, masa SMA, Yellow Heart mampu membangkitkan rasa ingin tahu saya secara pribadi, karenanya, ketika saya mendapatkan novel ini, saya langsung membacanya.

Di awal kisah saya merasa penasaran dan berusaha mengikuti cara berpikir Nadina, namun lama-kelamaan saya merasa lelah. Nadina adalah tokoh yang terlalu banyak berpikir dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kehidupannya menyedihkan, bukan hanya karena lingkungannya namun karena caranya berpikir yang negatif. Dia benar-benar mampu membuat saya ikut depresi.

Diceritakan bahwa Nadina memiliki trauma yang membuatnya harus mendapat perawatan di rumah sakit jiwa. Sejujurnya, saya berharap penulis akan menceritakan kisah ini dengan detail karena inilah salah satu momen paling mengerikan dalam hidup Nadina. Namun, trauma yang sedemikian hebat itu hanya diramu dalam beberapa percakapan sederhana dan berlalu begitu saja.

Saya juga kurang bisa memahami bully-ing yang diceritakan di novel ini. Nadina mengatakan bahwa Natalie sangat jahat padanya. Dilempar kertas, itu memang sering terjadi di masa sekolah. Namun, saat seorang siswi bisa meyiram air comberan ke wajah dan seragam siswi lainnya dan hal itu terjadi di lingkungan sekolah, apakah itu masuk akal? Mungkin bisa dikatakan ya, seandainya si siswi tidak masuk ke kelas setelahnya atau dilakukan sepulang sekolah. Kenyataannya, kejadian itu terjadi saat jam sekolah dan Nadina masih masuk ke kelas setelah diperlakukan seperti itu. Baju Nadina pasti kotor karena air comberan itu bau dan kotor, bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa ada perhatian dari teman maupun gurunya?

Selain itu, Nadina juga menceritakan dirinya pernah keracunan karena minumannya dicampur bensin oleh Natalie.

What the??? Dua hal yang saya pertanyakan, apakah Natalie sangat gila ataukah Nadina cukup bodoh karena tidak mencium bau bensin dari minumannya? Karena setahu saya, bensin yang tercecer sedikit saja baunya sangat menyengat, apalagi saat akan diminum? Dan jika sampai terminum, setetes saja rasanya pasti sangat aneh bukan? Tak hanya itu, sepertinya Nadina menantikan saat dirinya di-bully oleh teman sekelasnya.

Apa dia tidak lagi mencampur bensin dengan minumanku? (hal.50)

Banyak sekali momen di mana saya harus mengerutkan kening kala membaca novel ini demi menyelami pikiran Nadina dan mengimajinasikan kisahnya secara utuh. Ditambah lagi, masih banyak ditemukan typo pada penulisan seperti: samapai (hal.35), saat kamu sendiri Dan dia (hal.48), jaket parasit (hal.49), Cowokitu (hal 83), sibuk.Aku (hal 169), Levi.Aku (hal 172), Jangan kasar! ki peduli sama kamu (hal 175), terletakdi (hal. 180), Akubenci (hal 186) dsb. Jadi, sembari membaca, tangan saya juga aktif memainkan highlighter untuk menandai typo yang ada.

Dan ada beberapa momen yang membuat saya bingung mencerna apa yang dimaksud oleh penulis.

Tapi bersaing dengan wanita seputih kertas seperti Natalie akan sangat menyakitkan. Hal. 87

Itu adalah narasi yang dipikirkan tokoh Nadina terhadap Natalie. Apa yang terlintas di pikiran ketika membaca kalimat di atas? Mungkin anda akan berpikir bahwa Natalie sangat cantik dan berkulit putih atau kebaikan hatinya membuat dirinya tampak seperti seputih kertas?

Natalie memang cantik namun sikapnya jauh dari ‘baik’. Bagi Nadina, Natalie adalah medusa. Cewek jahat. Cewek yang senang membuatnya menderita. Perumpamaan ini membuat saya bingung memaknai ‘seputih kertas’. Bukankah kertas putih diidentikkan dengan kepolosan, kemurnian dan kebaikan hati yang luar biasa?

Kemudian, beberapa kalimat memiliki struktur yang kurang lazim seperti:

Apa dia tidak lagi mencampur bensin dengan minumanku? (hal.50)

“Bukannya dokter sudah memberi bulan di mana aku akan mati?” (hal. 91)

Parfum yang sering kuhisap setiap pagi (hal. 100)

“Jangan dulu senang.” (hal. 116)

Ketika dia meletakkanku di ranjang barulah aku segera bangun, melepas segala rasa pucat dan menghiraukan kakiku yang terasa lumpuh. (hal 137)

Namun, di balik semua kekurangan itu, saya mendapati beberapa pelajaran berharga dari novel ini. Seperti penjelasan mengenai ilmu biologi dan psikologi (tapi saya belum searching di Google untuk konfirmasi kebenarannya). Penulis juga menulis dengan sangat detail pada beberapa bagian misalnya saat menceritakan tentang drama sekolah. Bagaimana proses awal hingga akhir serta penampilan mereka di panggung maupun perasaan Nadina yang perlahan-lahan membaik setelah berusaha membuka diri.

Buku ini saya rekomendasikan kepada orang-orang yang ingin memahami bagaimana depresi bisa terjadi, perasaan seseorang secara mendalam dan apa yang harus dilakukan untuk bangkit dari keterpurukan.


Data buku

Judul Buku: Yellow Heart

Penulis: Vini Sadewa

Editor: Yacita Editya Masyhur

Penata letak: Tri Kuncoro P. H

Desainer Sampul: Febryanto Nugroho

Penerbit: BukuOryzaee Publisher

Cetakan I: 2016

Iklan