“Bila kau ingin ‘kelihatan’, kau harus berusaha. Tidak bisa diam dan pasif menunggu. Tidak ada orang yang akan memberi jalan atau mempersilakan tanpa kau sendiri berusaha.” (Hal. 112)

Saya masih ingat saat saya membaca buku ini. Suatu hari mamak pulang dari sekolah dengan membawa sebuah novel. Katanya, Ny Likas, si empunya cerita dalam buku ini baru saja berkunjung ke sekolah tempat mamak mengajar. Mamak penasaran dan meminjamnya dari perpustakaan.

Ny Likas dulunya pernah mengajar di Pangkalan Berandan (daerahku) di tahun 1943, zaman Jepang menjajah. Kebetulan beberapa kali saya melihat buku ini di toko buku, jadi saya langsung membacanya saat itu juga.

Perempuan Tegar dari Sibolangit merupakan biografi istri dari jenderal Jamin Gintings, yaitu Ny. Likas Tarigan. Hingga buku ini dicetak pertama kali di tahun 2005, umur beliau 80 tahun. Biografi ini ditulis oleh Hilda Unu-Senduk seorang jurnalis.

Bagian favorit saya adalah Rumah Tanggaku, Mahligaiku. Di situ saya banyak tersenyum dengan cerita beliau tentang mendidik anak-anaknya. Bagaimana ia selaku ibu memberi treatment yang sesuai dengan pribadi putri-putrinya. Juga, tentang cerita Alm. Jamin Ginting.

Dari buku ini juga saya mengenal sosok Jamin Ginting, dalam hati saya berkata, “Oh ini tokoh yang namanya dijadikan nama jalan Jamin Ginting di Medan itu. Ternyata begini ceritanya.”

Membacanya membuat saya mengetahui sejarah Sumatera Utara yang selama ini tidak saya ketahui. Malu sekali rasanya, saya tidak tahu banyak hal tentang daerah sendiri.

Mengenai judulnya, Tegar? Awalnya saya bertanya-tanya, akan setegar apa sih sosok Ny Likas ini? Saya pikir ceritanya akan sangat dramatis, namun nyatanya tidak.

Tegarkah saya seandainya saya hidup di zaman serba susah?

Tegarkah saya jika saya hidup dalam situasi agresi militer dan berbagai suasana politik yang panas saat itu?

Tegarkah saya ketika harus kehilangan orang yang saya cintai?

Tegarkah saya seandainya saya menjadi istri yang suaminya adalah seorang pejuang yang bisa mati tertembak kapan saja?

Tegarkah saya harus keluar masuk hutan, mendengar tembakan, jadi sasaran kebencian?

Jika saya harus menjawabnya, maka saya akan berkata, “Mungkin saya tak setegar itu.”

Untuk itulah saya dan anda perlu membaca buku ini. Agar kita belajar menghargai kehidupan ini dengan lebih baik.

Iklan