Hai pals!

Seperti yang udah kuceritain di postingan sebelumnya, aku bakal ikutan ngeramein event #BBIHut6 Marathon yang diselenggarakan oleh BBI. Sebagai newbie di BBI, aku ngerasa sangat antusias untuk ikut merayakan ulang tahun Bebi yang ke-enam (usia segini, Bebi udah bisa masuk SD lho, hihi).

BBIHut6

Dalam event #BBIHut6 Marathon, BBI-ers posting marathon selama 6 hari (10-15 April 2017). BBI-ers nge-post di blog masing-masing satu postingan setiap hari (tapi nggak wajib sih, sunah aja, wkwkwkk). Ada 7 tema yang dikasi Divisi Event BBI, tapi setelah aku baca daftar temanya, aku ngerasa temanya bisa dibilang sangat bebas, yang penting berbentuk artikel yang berkaitan dengan buku dan BBI.

Untuk postingan pertama yang mengawali rangkaian #BBIHut6 Marathon di blogku, aku pengen curhat tentang hal-hal yang menggangguku saat baca novel. Hal itu bahkan bisa membuatku nggak suka sama novel tersebut dan mempengaruhiku dalam menilai buku secara keseluruhan.

Ide postingan ini muncul beberapa bulan yang lalu saat aku hunting giveaway (GA) di Instagram. Kak @niafajriyani ngadain giveaway dengan hadiah buku kesukaannya. Nah, di situ, dia minta peserta GA untuk share: Hal yang membuat kamu tidak menyukai buku?

Saat itu aku menjawab seperti ini:

Nah, walaupun aku udah buat 5 poin, aku masih sering mikirin tentang hal ini dan setelah aku list ulang, aku nemuin beberapa tambahan. 

Jadi, aku putuskan untuk buat satu post lengkap tentang hal ini.

Yak, inilah 9 hal yang bikin aku nggak sreg saat baca novel:

1. Typo bertaburan

Ini hal paling menyebalkan yang sering banget ganggu keasyikanku dalam menikmati bacaan. Kayak lagi enak dibonceng naik motor terus si kawan ngerem mendadak, wkwkwk (nggak elit banget perumpamaannya). 

Bukannya aku nggak punya toleransi atau terlalu perfeksionis, tapi kan kesal kalo typo-nya itu kata-kata yang remeh (kecuali emang kata baru, serapan dsb yang bisa dimaklumi). Saat nemu typo, aku langsung meraih hp dan membuka aplikasi KBBI dan memastikan kata tersebut. 

Kalo dalam suatu novel terlalu banyak typo, aku secara nggak sadar lebih ‘notice’ si penulis, editor, dan penerbitnya. 

2.Tulisan terlalu kecil dan rapat

Dulu aku nggak mempermasalahkan tentang ukuran huruf dari sebuah bacaan. Tapi ntah kenapa, saat baca satu buku dengan ukuran huruf yang lebih besar dan nggak terlalu rapat spasinya, rasanya itu lega. 

Setelah nemu yang lega, pas baca novel yang tulisannya imut-imut rasanya lelah adek, bang. 

3. Terlalu banyak kalimat puitis

Aku nggak keberatan dengan kalimat-kalimat puitis (termasuk kalimat bermajas-majas) asalkan nggak overdosis. Kalimat puitis itu ok karena bisa dicomot jadi quotes khas novel tersebut, tapi kalo sepanjang paragraf atau narasi kalimatnya puitis semua, ya enek. 

Apalagi aku sering nemu kalimat puitis yang maksa, wkwk. Bahkan kadang kalimat satu dan yang lainnya nggak nyambung tapi dipertahankan supaya efeknya WOW. Nyatanya, itu bener-bener ngurangi kenikmatan dalam membaca karyanya. Nggak perlulah ya mention siapa orangnya atau judul bukunya.

4. Bahasa yang penulis gunakan kasar dan terkesan arogan 

Pernah nggak kamu nemu novel yang tokoh akunya itu songong banget? Menghina dan merendahkan tokoh lain secara fisik? Atau menunjukkan dirinya yang paling pintar dan orang lain bego? 

Aku pernah, dan hal itu bikin aku ilfeel. Apalagi kalo dalam tiap percakapan tokoh-tokohnya ngomong kasar, maki-maki nggak jelas. 

Walaupun udah males bacanya, tapi biasanya aku usahain untuk nyelesainnya karena aku pengen tahu apakah tokohnya bakal begitu terus atau dia bakal ngalami perubahan jadi sosok yang lebih baik. Kalo ternyata hingga beberapa bab tetap begitu gayanya, aku give up. 

5. Kisahnya lebay, terlalu banyak drama, dan ending-nya terkesan terburu-buru

Ini biasanya ditemukan di novel romance. Aku suka gaya penulisan yang masuk akal jadi nggak cocok baca novel yang terlalu lebay. Terkadang ada novel yang menye-menye banget ceritanya, berantemnya kepanjangan, sedihnya nggak ketolongan, eh, tiba-tiba udah ending aja. Endingnya singkat, maksa dan nggak cocok dengan alur yang dibuat bertele-tele tadi. 

6. Terlalu banyak narasi yang membosankan

Ada penulis yang walaupun narasinya panjang tapi menarik untuk dibaca. Namun, nggak sedikit novel yang memuat banyak narasi yang panjang dan membosankan. 

Aku pribadi lebih menikmati novel yang memuat banyak dialog ketimbang banyak narasi. Dari dialog tokoh aku bisa ngebayangin situasi yang sedang terjadi dan ikut jadi saksi dalam kisah mereka.

7. Terlalu banyak tokoh

Aku termasuk orang yang jarang ingat nama. Jadi, jika dalam satu novel terlalu banyak tokoh yang lalu-lalang, aku nggak bakal mengingat mereka kecuali perannya banyak dalam cerita tersebut. 

Terlalu banyak tokoh dalam satu novel juga membuat cerita nggak fokus. Setiap ada tokoh baru, aku selalu bertanya, “Kira-kira ntar dia muncul lagi nggak ya? Apa dia punya peran di bab selanjutnya?”

8. Kurang riset

Riset itu penting untuk tulisan, apalagi untuk sebuah novel yang sudah diterbitkan. Banyak orang yang menelan bulat-bulat informasi yang diberikan di bacaannya (males konfirmasi kebenaran). Jadi, kadang aku ngerasa aneh kalo ada cerita yang nggak masuk akal dalam novel (yang bukan bergenre fantasi), misalnya saat mengungkapkan fakta kesehatan atau psikologi, dll.

9. Terlalu banyak menggunakan bahasa Inggris

Konteks yang kumaksud yaitu narasi dalam novel berbahasa Indonesia. Terkadang aku nemu narasi yang bahasanya campur (biasanya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) padahal kalo pake padanan bahasa Indonesianya terlihat lebih bagus dan alami. 

Peralihan dan percampuran bahasa terkadang membuatku menghentikan bacaan sejenak, mencoba memahami maksud dari penulis. Sesekali sih nggak masalah, tapi kalo aku nemukan hal itu hampir di setiap lembar, rasanya gimana gituuuu.

Nah, itulah 9 hal yang mempengaruhiku untuk suka atau tidak terhadap satu novel. 

Bener-bener subjektif ya? Wkwkwk. Tapiiiii, itulah yang benar-benar kurasakan saat membaca.

Gimana denganmu? Apakah kamu ngerasain hal yang sama kayak aku? Atau kamu punya hal lain yang menjengkelkan ketika membaca sebuah novel? 

Iklan