Hai pals!

Dua hari yang lalu, saat me-refresh tampilan beranda iJakarta (aplikasi perpustakaan digital di smartphone), aku menemukan buku menarik berjudul Handbook of Cooperative Learning yang ditulis oleh Shlomo Sharan, P.hD. Buku ini disediakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta. 

Rasanya senaaaaang sekali bisa menemukan dan membaca buku ini. Aku sangat bersyukur dengan adanya aplikasi perpustakan digital yang bisa diakses secara gratis. 

Buku ini diterbitkan pada 1999 namun baru diterjemahkan di Indonesia pada tahun 2012 oleh penerbit Familia.

Aku mulai membaca dari kata pengantar yang ditulis oleh Shlomo Sharan. Pada bagian ini, sang penulis menceritakan gambaran awal tentang konsep Cooperative Learning dan apa saja yang disajikannya dalam buku tersebut. 

“Gelombang baru” pembelajaran kooperatif muncul pada awal tahun tujuh puluhan -setelah adanya karya rintisan dari John Dewey dan kemudian dari karya Alice Mail dan Herbert Thelen pada tahun 1950. (Hal. VI)

Bagaimana dulunya penerapan CL ini bisa menimbulkan pro dan kontra karena teori ini agak berbeda dengan teori tradisional (siswa belajar secara individual vs. siswa diminta untuk bekerja sama dalam belajar). Selain itu, penelitian-penelitian yang mendukung signifikansi dari penerapan teori tersebut sehingga CL dapat diadopsi di banyak kelas dan mata pelajaran. 

Adapun materi yang dapat dibaca dalam buku ini disusun dalam beberapa bagian. Bisa dilihat dari daftar isinya.

#

Dalam posting-an kali ini ini, aku khusus mencatat beberapa hal penting yang ada di bagian satu, khususnya bab satu tentang Student Teams-Achivement Divisions (STAD) oleh Robert E. Slavin.

Student Teams-Achievement Divisions (STAD) diterjemahkan menjadi Divisi Pencapaian-Kelompok Siswa namun lebih dikenal dengan sebutan Kelompok Belajar Siswa. 

Metode ini dikembangkan dan diteliti di Universitas John Hopkins.

Yang sering nonton drama Korea khususnya bidang kedokteran ngerasa familiar dong yaa dengan universitas satu ini. Hihihi.

Adapun persamaan antara metode STAD dengan metode-metode lain dalam pembelajaran kooperatif adalah:

Siswa bekerja bersama-sama untuk mempelajari dan bertanggung jawab atas pelajaran mereka sendiri dan juga pembelajaran orang lain. (Hal. 3).

Namun, terdapat perbedaan yaitu:

STAD menekankan pada penggunaan tujuan kelompok dan keberhasilan kelompok, yang hanya bisa dicapai jika semua anggota kelompok itu mempelajari objek yang sedang diajarkan. (Hal.4).

Ada tiga konsep penting dalam penerapan STAD (Hal.4):

1. Penghargaan kelompok. Adanya penghargaan kecil-kecilan yang diberikan guru ketika kelompok berhasil mencapai kriteria-kriteria yang telah disepakati sebelum belajar, dapat berupa sertifikat atau gambar kelompok yang ditempel di mading kelas tiap minggu. 

2. Tanggung jawab perseorangan. Artinya setiap orang akan mempengaruhi nilai temannya. Mereka harus saling membantu dalam memahami pelajaran agar nilai kelompok terdongkrak. Namun, saat kuis atau penilaian dilakukan, mereka tidak saling membantu. 

3. Kesempatan yang sama untuk memperoleh keberhasilan. Kelompok akan dibentuk dari anak-anak pintar, sedang dan kurang pintar serta anak-anak yang berbeda ras, suku atau agama. Mereka tidak bersaing satu sama lain namun masing-masing orang harus meningkatkan kemampuannya sendiri. Salah satu bentuk penilaiannya adalah perbandingan antara nilai sebelumnya dengan nilai yang didapatkannya setelah mengikuti STAD. 

#

Metode STAD dijelaskan secara lengkap di buku ini dari halaman 3 sampai 28. Di dalamnya memuat tentang konsep-konsep STAD, penelitian-penelitian, cara kerja, pedoman membuat kelompok hingga cara penilaiannya (disertakan tabel-tabel penilaian untuk memudahkan pembaca memahami materi). 

Untuk memahami keseluruhan metode ini, kamu bisa unduh dan baca secara gratis di aplikasi iJakarta.

#

Menurutku buku ini merupakan salah satu buku penting yang harus dibaca oleh guru maupun calon guru. Karena, buku ini membuat kita memahami konsep-konsep penting dalam pembelajaran kooperatif. Selain itu, buku ini benar-benar disusun dengan baik agar cocok menjadi buku pegangan (handbook). 

Tidak perlu khawatir dengan pemikiran bahwa buku ini pasti terasa “berat” bahasanya karena label handbook serta berbentuk terjemahan. Justru, saat membacanya, aku merasa bahwa buku ini lebih mudah dipahami karena fokus terhadap materi-materi yang disampaikan (berbeda sense-nya saat membaca artikel-artikel Google).

Setelah membaca beberapa halaman awal, ada keinginan untuk membeli buku ini dalam bentuk cetak, agar aku lebih leluasa membacanya. Sebelum aku bisa membelinya, aku berdoa semoga saja buku ini tetap disediakan di iJakarta. Hehehhee. 

Iklan