Mengenal Sedikit Tentang Disleksia

Oleh: Nurwahidah Ramadhani


Ternyata sulit membuat resensi buku, huft. Sebelum masuk ke inti posting-an, aku mau curhat sedikit tentang meresensi.

Aku buat blog ini dengan tujuan untuk mendokumentasikan hal-hal menarik yang kudapat dari buku yang dibaca. Fokus utamanya adalah membuat resensi.

Namun, jika dibongkar arsip blog ini, terakhir kali aku menulis resensi di bulan Januari, saat aku mengejar pendaftaran menjadi anggota BBI, wkwkkwk. Setelah itu, aku hanya menulis curhatan seputar buku dan catatan-catatan berharga dari bab-bab yang kubaca dari sebuah buku.

Selain itu, ada fenomena miris lainnya. Ntah kenapa sebulan terakhir ini aku kesulitan menyelesaikan bacaan. Sedih sekali rasanya. Tiap hari aku buka aplikasi iJakarta, minjam 3 buku, buka-buka beberapa halaman lalu aku nggak punya keinginan kuat untuk menyelesaikannya walaupun buku-buku itu bagus (fyi, buku yang kupinjam rata-rata non fiksi). 

Baca fiksi nggak doyan. Baca non fiksi nggak selesai-selesai. Dilema. Haha. 

Hingga akhirnya, aku mendapat pemberitahuan di iJakarta bahwa buku Wonderful Life karya Amalia Prabowo tersedia stok untuk dipinjam. 

Yuhuuu, buku ini banyak peminatnya, buktinya udah lamaaaaa banget aku ngantri dan baru sekarang bisa dipinjam. Sudah hampir sebulan selalu masuk pemberitahuan stok dari iJakarta, namun tiap aku mau minjem, lagi lagi stoknya habis. 

Larisnya buku ini di iJakarta mungkin karena beberapa bulan yang lalu diadakan baca bareng buku tersebut. Selain itu, ulasan mengenai buku ini rata-rata bernada positif. Jadi, para pecinta buku berbondong-bondong meminjamnya. 

Karena sudah jodoh, akhirnya aku berkesempatan untuk meminjam buku ini. 

Dan yaaaah, alhamdulillah, setelah sebulan kesulitan menyelesaikan bacaan, buku ini berhasil kulahap dalam tempo satu hari. 

Nah, bagaimana aku memandang buku ini? 

Yuk simak lebih lanjut yaaaaa..

#

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian: me, him dan us.

Pada bagian me, diceritakan tentang kehidupan Amalia sejak kecil. 

Hal ini diisi dengan kenangan-kenangannya akan kebiasaan di rumahnya. Bagaimana orang tuanya (khususnya sang bapak) mendidiknya dengan keras untuk jadi orang yang kuat, pintar dan visioner. Selain tentang keluarga, bagian ini juga menceritakan tentang pengalaman sekolah, kuliah, kerja hingga pernikahannya. 

Sejujurnya aku agak males dengan pemilihan font di buku ini, namun cara si penulis bercerita membuatku mengesampingkan hal tersebut. 

Menurutku secara pribadi, gaya penulisan Amalia sudah menarik sejak awal.

Aku bisa membayangkan bagaimana situasi tersebut secara nyata. 

Ahh, aku sampai berpikir, seandainya orang tuaku juga bertanya tentang bacaan yang kubaca. Mungkin, aku lebih termotivasi untuk membaca (karena selain memiliki banyak persediaan bacaan, punya seseorang yang bertanya tentang isi bacaan atau bisa diajak berdiskusi sehabis membaca itu sangat menyenangkan). 

Aku juga sempat berandai-andai, mungkin nantinya aku bakal sering-sering menemani anakku membaca. Kami bisa saling memberi tantangan untuk membaca buku yang sama lalu mendiskusikannya. 

Selain permasalahan membaca, aku juga banyak belajar tentang budaya dan didikan di keluarga lain lewat buku ini. Dari buku ini aku belajar memahami pola pikir orang lain.

Di bagian pertama ini juga diceritakan bagaimana beliau berpikir rasional dan sistematis.

Memang benar, caranya berpikir membuatku sejenak berpikir ada sisi arogan yang mengakar kuat dalam dirinya, namun anehnya, aku tidak keberatan dengan penuturannya mengenai hal itu. Namun banyak juga hal positif yang bisa dipelajari dari beliau. Aku merasakan sosok yang jujur dan sangat manusiawi. Porsi tulisannya pas.

Pada bagian him, diceritakan mengenai keterpurukan yang Amalia alami. Satu per satu kejadian mulai membuatnya berpikir ulang tentang makna kehidupan. Puncaknya adalah saat Aqil, anak pertamanya, didiagnosis mengalami disleksia yang membuatnya kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. 

Bayangkan bagaimana rencana-rencana yang telah ia buat berdasarkan cara didik orang tuanya tak bisa ia berlakukan untuk sang anak? 

Awalnya, ia benar-benar menolak fakta tersebut. Ia merasa stres dan bingung bagaimana harus bertindak. Namun, akhirnya pelan-pelan ia berusaha menerima dan mencari informasi serta bantuan dari berbagai ahli terkait masalah disleksia. 

Disleksia bukan berarti bodoh, namun memang cara belajarnya unik dan khusus. 

Pertama kali aku mengenal istilah disleksia ketika aku menonton film India yang berjudul Every Child is Spesial di mana sang anak juga mengalami kesulitan belajar karena tidak memahami bahasa dan simbol-simbol bacaan. Anak yang mengalami disleksia perlu bantuan dari banyak orang terutama keluarga terdekatnya untuk mengenali potensi dirinya.

Pada bagian us, Amalia bangkit dan mulai belajar memahami sang anak. 

Dalam kasus Aqil, dia cocok dengan kegiatan hiking (menjelajah alam) dan art (seni khususnya menggambar). Amalia berusaha untuk keluar dari zonanya dan berusaha masuk dan menikmati dunia sang anak. Hal ini membuahkan hasil yang membahagiakan, Aqil menunjukkan perkembangan yang pesat.

#

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki buku ini. Pertama, jumlah halaman yang tidak banyak (182 halaman). Buku ini cocok sekali bagiku ya g sedang mengalami reading slump. Kedua, buku ini diisi dengan beragam ilustrasi Aqil.

Gambar-gambar yang dimuat memberikan kesegaran tersendiri bagiku. Ketiga, cara penulisannya sederhana, singkat namun mengajak pembaca membayangkan kejadiannya secara nyata. Keempat, aku belajar banyak mengenai budaya dan pola pikir orang lain lewat buku ini.

Selain kelebihan, aku juga merasa ada yang kurang dari buku ini. Pertama, pemilihan font-nya membuat sedikit tidak nyaman, walaupun memang cocok dengan konsep anak-anak dan gambar-gambar yang dimuat. Kedua, penjelasan mengenai disleksia kurang banyak. Saat membaca blurb di cover belakang buku, aku pikir aku bisa mendapat informasi terkait disleksia lebih banyak. 

Buku ini aku rekomendasikan untuk para pembaca yang senang belajar dari pengalaman orang lain, orang yang ingin mengenal disleksia dan treatment-nya, para orang tua yang ingin lebih memahami anaknya dan para pembaca yang sedang ingin baca buku dengan bahasa yang ringan. 

#

Identitas buku

Judul: Wonderful Life

Penulis: Amalia Prabowo

Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto

Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo

Perancang sampul dan penata letak: Fajrin Fathia

Cetakan, tahun: Pertama, 2015

Iklan