Hai pals!

Well, saya sudah lama sekali tidak menulis resensi. Butuh dorongan kuat agar jari bersedia mengetikkan kalimat-kalimat yang berputar acak di otak.

Saya baru saja selesai membaca novel karya Annisa Ihsani yang berjudul A Untuk Amanda yang diterbitkan pertama kali di tahun 2016 dan ingin menceritakan kesan yang saya dapatkan di blog ini. 

Screenshoot cover A Untuk Amanda di iPusnas

Telat dua tahun, ya? Namun, tak apalah. 

Saya senang akhirnya bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu 7 jam (diselingi kegiatan-kegiatan lain).

Saya tak sengaja melihat cover buku ini di beranda aplikasi iPusnas. Melihat nama penulisnya, Annisa Ihsani, membuat saya tertarik.

Saya tahu namanya beberapa tahun lalu saat membaca review seseorang mengenai novelnya Teka-Teki Terakhir. Saya berusaha mencari buku tersebut di Gramedia tapi tidak ada stok. Lalu, menemukannya di iJakarta, harus antri. Kemudian tak sengaja melihatnya di iPusnas, stoknya ada. Saya putuskan untuk meminjamnya, tapi hingga saat ini belum selesai dibaca. Haha.

Tadi malam saya memutuskan untuk membaca karyanya yang lain terlebih dahulu. Saya pinjam A Untuk Amanda tanpa ekspektasi apa pun. Membuka halaman terakhir berisi blurb terlebih dahulu. Sadar bahwa novel ini bercerita tentang Amanda, gadis pintar yang merasa dirinya bermasalah. Dia menderita depresi.

Ah, psikologi.

Saya yakin akan menyukainya. Dan … benar!

Cerita ini memakai sudut pandang aku. Amanda memulai prolog dengan bercerita bahwa dia pergi ke psikiater. Dia merasa seperti seorang penipu.

Amanda pintar. Mendapat beasiswa. Selalu meraih nilai A. Hidupnya baik-baik saja hingga dia mulai berpikir bahwa dia tidak sepintar itu. Dia mendapat nilai A hanya karena keberuntungan dan menipu semua orang karena berpikir dia pintar. Dia mulai terpuruk dengan pikiran-pikirannya sendiri dan hal itu memengaruhi emosinya.

Jujur saja, saya sendiri pernah merasakan hal itu. Ketika belajar di kelas, saya kadang berusaha mengangkat tangan, menjawab pertanyaan dosen dan teman-teman mulai berpikir saya lumayan. Padahal jawaban tersebut tidak memuaskan bahkan kadang asal saja (beruntungnya dalam perkuliahan bahasa, jawaban tidak langsung dinilai benar dan salah. Hanya sekadar berani atau tidak dalam mengutarakan pendapat).

Ketika mendapat A, saya merasa tidak pantas. Saya tidak tahu banyak tentang mata kuliah itu. Namun, ketika mendapat B, saya juga tidak terima.

Nah, kasus Amanda lebih ekstrem. Dia memang benar-benar pantas mendapat A tapi dirinya menolak hal tersebut. Dia malah menenggelamkan diri dengan pikiran-pikiran negatif seperti: aku adalah sebuah kegagalan, aku tidak berguna, dan sebagainya.

Amanda akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dia menemui psikiater. Dari situlah cerita bergulir.

Sejak halaman pertama, saya sudah menyukai gaya penulis dalam bercerita. Bagaimana Amanda menceritakan sosok psikiaternya, percakapan mereka, juga bocoran beberapa tes-tes yang diberikan padanya membuat saya berpikir, risetnya bagus. Apa penulis mewawancari psikiater benaran atau bahkan pernah berkonsultasi? Hmm…

Narasinya menarik. Diksinya unik.

Saya banyak tertawa membaca humor-humor yang disajikan. Juga, penjelasan ilmiah tentang hal-hal berbau sains yang disisipkan dalam cerita.

Saya rasa Amanda sukses menceritakan hidupnya pada saya. Saya bisa membayangkan kejadian dan perasaannya. 

Novel ini seperti novel terjemahan, tapi sepanjang membaca, saya bertanya-tanya, “Bagaimana bisa saya sangat menikmati tulisan yang bahasanya formal seperti ini? Sudah berapa banyak buku yang penulis baca hingga tulisannya serapi ini? Apa saja buku favorit sang penulis?”

Mengenai ceritanya, saya sungguh penasaran, “Di mana sesungguhnya latar cerita ini?”

Sebuah kota kecil di negara tropis tapi memiliki universitas tersendiri dan sistem pendidikan yang bagus. Mereka memakai IPK untuk nilai, klub-klub di sekolahnya oke, materi belajarnya jelas bukan materi yang umum dipelajari di Indonesia, dan semester baru dimulai bulan September. Negara manakah itu? 

Saya menikmati novel ini dari awal hingga akhir. Ending-nya memang agak biasa (bukan tipe ending yang membuat kesal atau bahagia luar biasa) tapi saya menyukainya karena natural. Oh, ya, sebagai peringatan, dalam cerita ini Amanda juga membahas masalah agnostik, seksisme, dan feminisme. Jadi, bijaklah dalam membaca. 

Novel ini saya rekomendasikan pada pembaca yang tertarik dengan fiksi remaja/dewasa khususnya kisah yang membahas psikologi remaja dan memuat istilah-istilah sains.

Judul: A Untuk Amanda

Penulis: Annisa Ihsani

Terbit tahun: 2016

Halaman: 264

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Editor: Yuniar Budiarti

Kategori: Young Adult

Iklan